Imigrasi Pekanbaru jjang!!!

Rumbai, December 18th 2014

Semingguan ini gue bertekad untuk memenuhi janji gue ke suami… memperpanjang dan membuat paspor untuk gue dan anak-anak gue. Bukan untuk jalan-jalan, tapi cuma supaya ada aja. Setelah menunda berkali-kali akhirnya niat itu terkumpul dan karena catatan contact person yang dikasi suami gue (gue kira), hilang… maka terpaksa gue harus jalan sendiri deh. Kebayang duluan ribetnya urusan sama pemerintahan, dulu jaman ngurus paspor di Jakarta… buanyak orang, ribet dan sebagainya.

Alhamdulillah ternyata udah beda banget… karena gue kurang pengalaman aja makanya gue sampai 4 kali bolak balik ke sana. Tapi dengan berbekal pengetahuan yang cukup, gue rasa melakukan perpanjangan, penggantian dan pembuatan paspor di kantor imigrasi Pekanbaru tidak akan merepotkan. Makanya disini gue mau share, supaya temen-temen yang baca cukup persiapan dan ga dapet piring cantik kayak gue!

Note: jjang adalah kata-kata dalam bahasa Korea untuk mengungkapkan kekaguman. Sebelas-duabelas lah sama TOP MARKOTOP!!

Lokasi: Jl. Teratai no: 87, Pekanbaru.

Berbekal pengetahuan dari Google maps, akhirnya gue menekatkan diri berangkat kesana. Setelah lepas dari sungai Siak, gue berbelok ke kiri menyusuri Jalan Riau. Gue temukan jalan mawar, gue pikir: “Oooh, bener nih… nama jalannya sesuai tema bunga”. Jalan berikutnya ga bernama… gue pikir jalan berikutnya yang lebih besar. Ga taunya udah jalan Riau I. Hahahahai!! bener yang tadi boy!! Karena bingung, gue malah lurus dan tembus ke Jl. Sudirman; jangan tanya kenapa gue bisa sampai situ ya.

imigrasi1

Bukti kebodohan

 

Akhirnya gue kembali ke Jl. Tak Bernama itu, tapi ternyata bener kok Jl. Teratai setelah celingukan dan membaca papan nama toko-toko di sisi jalan layaknya anak SD yang baru belajar baca. Tapi semakin lama kok jalannya semakin kecil ya?? Trus kok makin rame orang jualan ya?? at some point gue bener-bener ga bisa lewat, rebutan ama angkot dari arah sebaliknya, diapit sama ayam-ayam… Oh My Good!! Gue nyasar ke pasar… pasar apa ini? Bertanyalah gue ke salah satu Uda yang beruntung.

Gue: Kantor imigrasi dimana bang? (dengan intonasi naik turun berusaha terdengar Pekanbaru)

Uda: Wah nda tau, tapi kakak lama kalau mau lewat sini.

You think?? dari tadi angkot semua gitu yang lewat… akhirnya gue terpaksa muter, nyelip di halaman depan ruko yang samping-sampingnya bolong. Hadeeh, adrenaline booo. Otak gue berpikir cepat, sebaiknya gue keluar ke jalan besar Ahmad Yani lalu masuk lagi setelah kelihatannya kondusif. Lagipula gedung-gedung di sekitar situ nomernya masih 20an dan lumayan teratur, nomer 87 masih jauh lah yaaa.

Akhirnya gue keluar ke peradaban Jl. Ahmad Yani, ternyata gue ada di Kelurahan Senapelan (ada gapura nya). Setelah menyusuri jalan itu barulah gue sadar dimana gue tadi berada. Dibelakang pasar emang. Gue lupa pasar apa, pokoknya ada texas fried chicken-nya.

Setelah aga mendingan, akhirnya gue belok ke kanan kembali ke Jl. Teratai lagi. Jalannya keciiil tapi isinya gedung-gedung penting gitu. Ada pengadilan tinggi segala. Akhirnya kutemukan lah plang kecil bertuliskan “IMIGRASI”. Hurraaayy!!! Tapi lho, kok Dharma Wanita? Imigrasinya mana? pintu masuknya mana… ternyata harus belok kiri sedikit, barulah kita temukan pintu masuknya.

Pulangnya gue baru menyadari cara yang lebih baik untuk kesana.

Susuri Jl. Ahmad Yani… Restoran Baresolok masih teruuus… Restoran Iga Bakar Jogja masih terus… ga lama di sebelah kanan ada kantor pemerintahan (lengkap dengan atap merah kuning dan lancang kuning khas bangunan pekanbaru) kalau ga salah gedung meteorologi. Lalu ada Jl. Ahmad Dahlan dengan gapura SUKAJADI. Naah, belok kanan deh. Kira-kira 100 meter dari situlah pintu masuk Kemenkumham berada; kantor imigrasi berada di bagian belakang gedung tersebut.

Screen Shot 2014-12-18 at 10.44.53 PM

Lahan Parkir: Challenging

Huahuahuahua (nangis maksudnya), lahan parkirnya keciiiilll… orang parkirnya ga sopan semua, tukang parkir baru ada kalau mau keluar. Trus ada banyak orang asing… mungkin dari eropa timur yang ngumpul di bawah pohon-pohon sekitar parkiran. Jadi bikin kita yang mau parkir ga pede, ntar nyundul pula…Tapi alhamdulillah pada baik (dan mukanya sama semua), ada yang markirin dan ga merasa terganggu sama sekali dengan gue parkir di depan muka mereka.

Di kunjungan kedua gue baru sadar bahwa di bagian belakang gedung, tepat di depan pintu masuk imigrasi ada parkiran yang lumayan gede. Tukang parkirnya baik walaupun orang-orang parkirnya juga pada ga sopan, tapi setidaknya Bapak parkirnya bisa mengatur.

Untuk kesitu: setelah masuk di pintu masuk utama langsung belok kanan melewati pos security. Emang tempatnya sempit dan sepertinya bukan untuk jalan mobil, tapi percayalah ada cahaya di ujung terowongan itu. Hahaha… nanti akan terlihat lahan (rumah orang) luas yang banyak mobil-mobilnya.

Proses: Clear but unclear

Di kunjungan pertama setelah nyasar di pasar, gue sampai di gedung kemenhumkan itu sekitar jam 12an. Salah masuk pintu dan bertemu dengan malaikat ibu-ibu baik yang menginformasikan bahwa imigrasi ada di bagian belakang dan bahwa pengambilan formulir sudah tutup. Jadi sebaiknya kembali lagi ketika sudah buka (ja naturlich!!) yaitu pukul 08:00 – 12:00. Maka akhirnya gue cuma fotokopi-fotokopi aja di depan gedung.

Keesokkan harinya gue sampai sana sekitar jam 10an, gue langsung disambut oleh sebuah ruangan dengan dinding kaca sehingga langsung memperlihatkan apa yang harus gue hadapi. Jreeeng!! Buanyak bener orangnya, ruangannya cuma 3×3. Tanpa tahu itu ruangan apa, gue masuk aja supaya sama seperti yang lain. Hehehe ga ding! Tapi ternyata bener itu adalah ruangan untuk mengambil formulir. Celinguk sana… celinguk sini… akhirnya ikutan budaya semua orang = nyelip!! dan minta ke bapak-bapak petugas: 2 formulir penggantian (satu untuk anak) dan satu formulir pembuatan paspor anak.

Selesai mengisi-isi sudah hampir jam setengah 12 dan ternyata ada persyaratan yang kurang (KTP Bapaknya). Karena yang bersangkutan lagi di Duri akhirnya mondar mandir cari Warnet. Damn smartphone era!! Karena ga ada lagi yang butuh warnet maka ga ada lagi warnet di dunia ini. Masuk ke ruangan imigrasi maksudnya mau tanya buka sampai jam berapa (siapa tahu masih bisa masukkin siangnya). Tapi gue diinformasikan bahwa ternyata imigrasi hanya melayani 100 orang setiap harinya. Jadi setelah nomer antrian mencapai 100, loket ditutup. Yikes! Emang udah nasib harus kembali yang ketiga kalinya.

Keesokkan harinya (lagi) gue kembali dan langsung mengambil nomer antrian. Gue dateng setengah 10 nomer antrian sudah sampai 87. Oh Nooo!!! Masa iya gue ga dapet lagi. Alhamdulillah gue bisa menyisipkan map dan masih dapet nomer antrian. Walaupun sempet deg-degan juga dengan cara kerja petugasnya yang ngambil map asal aja bukan dari tumpukan antrian. Sempet ke selak satu, tapi alhamdulillah gue bertiga dapet nomer cukup berdekatan. 91, 93 dan 94. Fiuh! That was close. Petugasnya kemudian menginformasikan bahwa diatas nomer 70 akan dilayani setelah makan siang. Untungnya tinggal di kota kecil, jadi kami bisa pulang dulu… bobo pagi dulu, nonton korea dulu (hihi) kemudian kembali setelah makan siang. Gue cukup terkesan dengan keteraturan tersebut, gue ga keberatan disuruh antri dan menunggu asal ada kejelasan; dan disini semuanya jelas… walaupun harus nanya dan bukannya dipampang dengan jelas langkah-langkahnya.

Siangnya kami kembali sekitar pukul setengah 2, antrian yang sudah dipanggil adalah sampai nomer 76. Tapi kami menunggu ga terlalu lama kok, karena mungkin ada beberapa yang tidak datang sehingga kira-kira setengah 3, Naila sudah dipanggil. Ada 6 counter dan semuanya terisi petugas. Setiap petugas sudah dilengkapi dengan peralatan perang yang mumpuni, lengkap sampai studio fotonya. Jadi ga perlu pindah-pindah booth untuk pendataan, wawancara dan foto. One stop shopping! Excellent…

Petugasnya helpful, informative, ramah dan kreatif. Bahkan ketika ada insiden bayi mogok ga mau di foto, mereka mau membantu menarik perhatiannya dan akhirnya berhasil mengambil foto yang layak untuk dipasang di surat perjalanan itu. Wawancaranya pun biasa aja, mungkin karena gue ibu rumah tangga bawa anak dan ga terlihat mencurigakan… jadi pertanyaannya cuma “suaminya kerja dimana”

Proses selanjutnya gue disuruh bayar, yang mana jumlahnya beda dari yang di website. Oh no!!! duit gue ga cukup, gue sempet protes ama petugas minta diupdate websitenya, supaya ga menyesatkan… tapi ternyata bayarnya bukan disitu melainkan di bank. Maka berlarianlah gue ke bank terdekat karena gue kira masih ada proses selanjutnya. Ada bank BNI di Jl. Ahmad Yani yang akan tutup jam 4 tapi (sekali lagi) alhamdulillah ga ramai sama sekali… 10 menit gue disitu, Alles Klar. Ada tambahan biaya bank 5000 aja.

Kembali ke gedung, ternyata proses sudah selesai… paspor bisa diambil hari Rabu minggu depan. Ga ada kertas yang diambil, ga ada proses apa-apa sama sekali. Jiaahhh, tau gitu mah langsung pulang aja. Bayar di camp… tapi ya sudahlah yang penting udah selesai.

Untuk lebih jelasnya ini langkah-langkah kepengurusan paspor di imigrasi Pekanbaru”

  • Ambil formulir di ruangan kaca yang ada di ujung kiri gedung (kalau dilihat dari parkiran belakang). Kalau dari arah depan, ruangan pertama yang kita lihat dari jalan. Bilang aja, keperluannya (ganti/bikin baru) dan untuk siapa.
  • Setelah mengisi dan melengkapi syaratnya (di papan tulis depan gedung atau disini ada daftar persyaratan), kembali ke ruangan tadi. Petugas akan memeriksa kelengkapan dan memasukkannya ke dalam map kuning.
  • Masuk ke ruangan besar di sebelahnya, ambil nomer antrian dengan kembali memberikan map kuning tersebut ke petugas. Petugas akan memeriksa kembali, bila lengkap maka akan diberikan nomer antrian maksimum 100.
  • Pendataan, wawancara, foto dan sidik jari. Siapkan dokumen asli.
  • Pembayaran dilakukan di bank
  • Pengambilan paspor (kalau ga salah 3 hari setelah pembayaran)

Tips & Trik: Be prepare!

Supaya ga kayak gue… ini beberapa tips untuk melakukan pengurusan paspor di imigrasi pekanbaru ini.

  1. Siapkan semua dokumen kelengkapan sesuai di daftar.
  2. Jangan lupa membawa bolpen sendiri
  3. Untuk pengurusan yang menyangkut anak, siapkan materai paling tidak 2 buah; surat pernyataan sudah disediakan imigrasi.
  4. Kalau ada yang bantuin, berangkat duluan ke kantor imigrasi dengan membawa map kuning untuk mengambil nomer antrian.
  5. Jangan lupa pakai baju berkerah, jangan pakai sandal dan rambut dikuncir aja… kuping harus kelihatan.
  6. Cuci tangan yang bersih supaya sidik jarinya kebaca… 3 dari 10 jari gue ga kebaca; alien kali ya gue?
  7. Datang sepagi mungkin, paling lambat setengah 10… supaya dapat nomer antrian.
  8. Nasabah BNI, pembayaran bisa dilakukan di atm.
  9. Untuk pembuatan paspor balita, jangan lupa bawa mainan yang dia suka dan yang berisik untuk membantu ketika foto.
  10. Untuk yang baru ganti gigi, kalau difoto jangan lebar-lebar senyumnya… masa di paspor foto ompong sampai 5 tahun ke depan. Bisa batal jalan-jalannya nanti, hihi!
  11. Coba gunakan pendaftaran online, denger-denger sih enak banget… dateng tinggal foto doang.

Kritik dan Saran: for a better and comfortable process

  • Parkirannya di gedein dooong…
  • Prosesnya dibuat di banner trus dipampang di depan
  • pengambilan formulirnya di atur lagi, mungkin bisa kayak di Bank. Formulir ambil sendiri dengan dibantu satpam, lalu tinggal menuju ke petugas untuk pemeriksaan dan pemberian map kuning.

Naah, sekian dulu sharingan gue tentang pengalaman mengurus paspor di Pekanbaru. Mudah-mudahan kemudahan ini ga cuma terjadi di sini tapi juga diseluruh Indonesia. Petugas yang melayani gue sempet nanya-nanya tentang pembuatan paspor di Jerman (KBRI) dan bertanya apakah benar kalau disana paspor dikirim ke rumah. Tapi tentu saja, disana yang bikin paspor RI kan ga banyak, jadi pengiriman ke rumah doable banget. Kalau disini ya suseehh…

Intinya sih, oke bangetlah!! Dah ga kayak dulu… antre lebih teratur, lebih jelas ngapa-ngapainnya jadi kita juga ga digantung-gantung dan nunggu berjam-jam tanpa kejelasan. Pokoknya puas banget sama instansi pemerintahan yang satu ini. Jjang!!!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s