The Baby Journal: Interlude

Jakarta, (started at) march 8th 2013

RafaelOne thing I have always wanted to do was to record Naila’s milestone during her baby and toddler period… Well, that ship has sailed!! But lucky enough, I think I have my other shots, cause now I have the latest creation of me and my husband. Please greet the new member of Ardiwiwoho’s: Rafael Bawonoputro Ardiwiwoho!

Switch to Bahasa mode…

Di serial ini (gue hobi banget bikin posting serial, tapi jarang yang melebihi edisi satu, kikikik), gue pingin banget observasi dan merekam perkembangan seorang bayi, milestone yang dicapainya, tantangan yang dihadapi sang Ibu, sampai hal-hal yang menjadi kekuatiran Maknya tentang si bayi. Semoga 20 tahun dari sekarang si Adek bisa baca post ini dan tertawa-tawa layaknya membuka album foto bayinya.

Tapi sebelum mulai perjalanannya, post pertama ini akan nyeritain gimana proses kehadiran si baby dan hal lainnya yang gak kalah penting, karena jadi acuan gue saat nulis edisi selanjutnya, that comes later yaaa…

the birth

The due date was supposed to be on February 27th 2013 and I scheduled my last day of work on the 20th – hihihi gue dan rencana licik gue, berharap brojolnya maju jadi tiga bulan cuti hamilnya bisa pol-polan getuuuuuu. Tapi subuh tanggal 18, gw merasakan sakit yang amat sangat… Dan karena gue manja kuatir, langsung aja gue suruh laki gue pulang dari hutan, kebetulan bokap (the gynecologist) juga bilang untuk tunggu matahari terbit aja baru ke rumah sakit (mengingat ini bisa jadi false alarm yang kesekian), jadi pas lah yaaa sama jam sampenya si suami siaga (dari jauh, hihi).

Semaleman tuh eijke ga tidur, begitu udah jam 6 gue sarapan… Abis sarapan… Sakitnya ilaaaaang *big grin*, tapi karena dah cape banget (dan suami pulang, ehm) jadi gue bolos kerja dah… Dan saat Hamung sampe rumah (dengan membawa raket tenis *geleng-geleng kepala*), gue cuma bisa tersenyum manis dan minta maaf.

Tapi minggu itu jadi minggu yang amat menyenangkan buat gue, pregnant Lady got her treat…

  • Hamung jadi Bapak rumah tangga yang baik, gue kerja (yup, besoknya masuk kerja lagi dan membuat banyak orang melotot) diantar dan dijemput…
  • Jalan-jalan di mal di siang hari bolong (wanita hamil harus banyak jalan, dan karena Jakarta minim-taman-maksim-polusi maka acara jalan-jalan dilakukan di mal),
  • Nongkrong di Air mancur Plasa Senayan di pagi hari. Berkesan banget lho event ini… Soalnya cuacanya lagi windy banget, udara juga masih seger, berasa kayak di Jerman lagi gue!! Kebetulan banget Naila libur, jadi dengan ditemani hot choco Nya Starbucks, gue duduk di bawah pohon nonton Naila lari-lari. Cool, Huh?!
  • Berhasil ngisi kamar tidur gue gara-gara diskon Informa yang mantap itu… Rezeki bayi nih kayaknya.
  • Hang out and “farewell gathering” ama teman kantor, terharu deeeh… Makasih ya teman-teman. Could not ask for a better colleagues…

Jumatnya, setelah selesai beraktivitas barulah gue nyadar udah ada flek di undies, jadi bergegaslah kami ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata kontraksi masih setengah jam, dan bukaan masih satu. Maka gue pun disuruh pulang. Untuk keempat kalinya dalam 3 minggu gue ngalamin false alarm.

FYI: Gue baru tau ya kalo yang namanya flek itu heboh… Selama ini gue kira cuma bayang-bayang doang, ga taunya sama seperti haid di hari-hari terakhir gitu. Pengetahuan baru juga buat gue, karena waktu hamil Naila, gue ga ngalamin yang begitu-begitu.

Malemnya gue ngerasa kontraksinya semakin sering, hampir 10 menit sekali, jadi di pagi-pagi buta sekitar jam 1an, gue balik lagi ke rumah sakit. Waktu di-CTG, ternyata emang udah 3 kali dalam setengah jam, jadi gue diperbolehkan masuk kamar. Finally… Harapan gue sih, siangnya gue udah brojol, ya kaaan??

Salah bangeeeetttt….

Semakin hari bertambah terang, kontraksinya malah berkurang… Dan bahkan di jam 2 (kontraksi gue diperiksa tiap 2 jam sekali), kontraksi hilang sama sekali, tapi setidaknya bukaannya udah 2.

FYI: Hal-hal yang diperiksa petugas kesehatan saat kita mau melahirkan adalah:

  • CTG, ini gunanya untuk mengetahui seberapa sering kontraksi yang dialami sang Ibu. Kontraksi ini penting banget dalam proses melahirkan, karena kontraksi lah yang akan mendorong bayinya, merangsang bukaan mulut rahim dan lain-lain. Saat di CTG ini pula jantung bayi dan gerakan bayi akan dimonitor.
  • Bukaan mulut rahim, hal ini dilakukan dengan melakukan periksa dalam yang rasanya super ga enak… Intinya suster atau dokter mau tau besar mulut rahim sang Ibu, karena begitu bukaan mencapai 4, itu artinya Ibu sedang masuk tahap active labor.
  • Jalan rahim. Di false alarm pertama, salah satu pertanyaan yang diajuin Bokap gue adalah “Udah di depan atau di belakang?” dan pertanyaannya itu diulang-ulang melulu sama petugas kesehatan yang lain. Jadi ternyata, awalnya mulut rahim dan ‘terowongannya’ tuh ga nyambung. Dalam keadaan normal salurannya akan berada di belakang, atau di bawah kalau posisi ibu sedang tiduran; nah karena kontraksi itulah lama-lama terowongan itu akan maju dan nyambung dengan mulut rahim.
  • Darah lendir, satu lagi yang dianggap sebagai tanda-tanda persalinan adalah keluarnya darah bersama lendir. Lendir ini fungsinya sebagai sumbat selama masa kehamilan. Beberapa waktu – bisa dalam hitungan minggu atau hitungan menit, mungkin – sebelum persalinan sumbat ini akan keluar dalam bentuk darah lendir itu.

Well… fast forward ke jam 11 malem setelah berkali-kali mengunjungi ruang observasi di kamar bersalin akhirnya bukaan gue jadi 5, tapi tetep belum ada kontraksi. Duh… ngeri juga kalo harus diinduksi nih. Tapi karena udah 5 cm, gue diperbolehkan untuk tinggal di ruang bersalin. Gue ganti baju rumah sakit dan minta roti meses supaya bertenaga kalo harus ngeden.

Jam 12an roti meses gue dateng… setelah makan satu biji tiba-tiba gue kontraksi. Phiuh!! That last one was a bit strong… 5 menit kemudian… kontraksi lagi… 5 menit kemudian… kontraksi lagi. Lho lho lho… kok jadi sering?

Saat itu gue cuma berdua doang ama suami, dan karena kebodohan kami… kami ga lapor lho sama suster. Baru setelah kontraksi ke sekian gue suruh suami tanya ke suster, jam berapa lagi gue bakal diperiksa; soalnya rasanya sakit banget. Ga berapa lama bidan-bidan itu kembali dan gue diperiksa lagi. Setelah itu mereka langsung telpon dokternya. Hahahaha, kalo gue ga nanya kapan diperiksa lagi, mungkin dokternya belum ditelponin tuh.

Wuaaahhh… ga tau ya bedanya apa sama yang dulu, tapi yang ini rasanya sakit dan tiba-tiba sekali. Dari yang tadinya ga berasa apa-apa trus langsung sakit aja gitu. Dan ketika akhirnya si baby ngedorong… Gue ga boleh ngedeeeennnn!!! And it happened like 3 times. Seinget gue dulu gue ga pake disuruh nunggu-nunggu dah. Kata Bidannya:

Ayo buuu, jangan dorong dulu. Ikutin Suster ya.. Huh Huh Haaaahhh

Giling susternya, mana bisa disuruh nahan, kan yang ngedorong bayinyaaa!! Yang ada gue ikutin juga sih:

Huh… Huuh… HAAAAAAAAAAAAHHHHHHH *njerit kenceng banget*

Lega banget rasanya pas liat Pak Dokter dateng dan bidan bilang gue boleh dorong.

Beneran nih ya? Boleh dorong?

Adeknya NayAkhirnya jam 1:41, setelah 3 kali dorong si jagoan kecil kami pun keluar. Dan gue masi ngeden-ngeden terus sampe akhirnya bidan harus nyadarin gue kalo bayinya udah keluar. Hehehehe, kemplung.

Abis itu dijahitlah, komentar dokternya lucu banget:

Ini orang Jerman gimana sih jaitnya? Wis, tak dandani (sudah saya perbaikin) dah kayak perawan lagi.

Jiahahahaha, emang kemplung dokter di jerman itu, gue inget rasanya sakit banget setelah melahirkan dan lukanya ga sembuh-sembuh. Hiiih, the bottom part of me must have looked hideous selama 5 tahun ini. Kikikikik… yang penting fungsinya ya sodara-sodara!!

FYI: setelah melahirkan gue melakukan apa yang disebut IMD (Inisiasi Menyusui Dini), dimana setelah dilahirkan, bayi diletakkan ke perut ibu lalu dibiarkan mencari puting ibu sendiri. And it happened lho, emang sih si bayi diletakkan ga jauh dari payudara gue tapi si bayi bergerak-gerak sendiri (uget-uget kayak cacing, He!), nemu dan akhirnya menyusu sendiri. Hebbat ya!!

Jam 3an kami kembali ke kamar supaya bisa istirahat (oh ya, gue sempet makan sisa roti meses pra melahirkan lho. Hahahaa… ternyata induksi gue adalah roti meses); tapi mungkin karena excitement, gue ga tidur sama sekali; ngiri juga sih denger suami udah ngorok di tempat tidur sebelah.

Yup, that’s it proses melahirkan kedua gue yang butuh 24 jam untuk menunggu; 1.5 jam menahan sakit, dan 15 menit ngeden. Not to shabby!! Untungnya gue sempet minta diperiksa suster ya? Telat dikit aja, mungkin gue harus ngelahirin sendiri tanpa dokter. Kekekeke… (kayak kuda nanti jadinya.)

My Baby Bible

My Baby Bible

the baby book

Moving on to the next part…

Berikutnya gue mau ngebahas sebuah buku… Buku ini penting banget buat gue, selalu jadi acuan bagi gue selama 2 tahun awal kehidupan Naila, akan dengan senang hati gue referensikan ke semua ibu baru yang mau membaca selagi punya baby, kitab suci gue dalam membesarkan anak.

THE BABY BOOK by William Sears and Martha Sears

Kebetulan banget sih gue bisa nemuin buku ini; di kala gue baru jadi ibu di negara nun jauh dari keluarga; berpetualang berdua ama suami yang sama clueless-nya dalam hal mengasuh dan membesarkan anak. Di tengah kebingungan gue, gue pun merasa perlu punya pegangan… Akhirnya browsing lah gue ke Amazon.de dan menemukan buku ini, dan sejak saat itu gue pun jadi murid tak resmi Dr. Sears dan ajarannya.

Buat gue (sekarang) nama Sears bukan hanya sekedar nama department stroke terkenal di US – masih ada ga sih? – tapi sebuah merk untuk DSA (Dokter Spesialis Anak – Hey! I didn’t come up with the acronym… I saw that terms somewhere in a forum). Satu keluarga yang sangat dekat dengan dunia kesehatan anak. Dr. William Sears adalah seorang dokter anak, Martha Sears adalah seorang suster dan konsultan ASI dan setidaknya satu dari 9 (kalo ga salah) anak mereka pun seorang dokter anak. Mereka menulis buku ini berdasarkan pengalaman tahunan mereka sebagai dokter dan suster, dan pengalaman mereka sebagai orang tua untuk 9 orang anak tadi.

Satu hal yang menarik yang dikatakan Martha Sears tentang suaminya yang dokter anak:

He only knows about sick babies

Pernyataan ini menyadarkan gue bahkan dokter anak pun mungkin bukan ahlinya dalam membesarkan anak, bahkan Dr. Sears sendiri mengakuinya:

These were not medical questions, but questions about parenting style… So I read baby books, just as you are doing now. The books were confusing. They seemed to be based on the author’s opinion rather than on actual research

Those two statements are two of many reasons of why I was hooked with this book. And so, that was the history of my love affair with this 767 pages book. And boy!! Our love was one of the most dramatic melodrama. Ha! Hyperbolic as ever…

General Idea of the Book

Satu hal yang sangat mendasari dan jadi jiwa bagi buku dan gaya parenting mereka adalah attachment parenting. Inti dari ajaran ini adalah untuk menjadi “terhubung” dengan bayi kita. Sangat menganjurkan untuk selalu merespon terhadap “petunjuk” dari bayi, selalu berada di dekat bayi, menggendongnya, memberikan ASI semaksimal mungkin, mendukung “pengaturan tidur bersama” bagi bayi dan ibu. Surprisingly, something so simple and intuitive. Dan buat gue, buku ini jadi validasi gue untuk mengikuti insting dan naluri keibuan gue.

Satu hal yang menarik dari isi buku ini adalah, sepertinya buku ini ingin mengajarkan untuk kembali ke basic, tips dan trik yang diberikan adalah sesuatu yang dikerjakan oleh orang-orang tua kita atau orang-orang desa, seperti penggunaan baby sling yang tentunya mirip dengan penggunaan kain batik mbok-mbok untuk menggendong bayi kemana-mana. Tidak dianjurkannya “latihan tidur” untuk membuat bayi tidur lebih lama terutama membiarkan bayi menangis untuk membuat mereka tertidur. Bahwa tidak ada yang namanya “Being manipulated by the baby”, yang ada faktanya adalah seseorang yang melangkah ke dunia yang baru pasti mengerikan… kita aja kalau masuk ke kantor baru pasti ada ketakutan tersendiri… Gimana dengan bayi yang bener-bener ga tau apa-apa? They just need a lot of comfort and cuddle from a familiar environment: his Mom! Banyak paham yang (menurut gue) logis tapi ga populer yang dikenalkan disini.

My Hero

My Hero

Yang menurut gue menarik adalah ajaran Dr. Sears ini seolah-olah mengajak orang Amerika untuk merawat bayi-bayi mereka seperti yang dilakukan nenek dan ibu kita (cara orang timur), sementara di Indonesia sendiri mulai populer cara membesarkan seperti yang dilakukan oleh orang Amerika. Hmm… Kebalik-balik ya?

Gue disini bukan mau nge-judge dan berkoar-koar bahwa gue tau yang terbaik atau bahwa paham ini adalah cara yang terbaik… Tapi dulu gue pernah baca bahwa TIDAK ADA cara terbaik untuk membesarkan anak, dan semua orang akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Jadiiiii… Supaya hidup kita sebagai ibu-baru ga terlalu complicated, yang terbaik adalah untuk mendengarkan dari satu sumber dan sumber itu saja. Dan buat gue, sumber itu adalah buku ini. Karena pandanganya yang sesuai dengan naluri dan pemahaman gue, karena lengkapnya informasi yang diberikan baik itu secara medis maupun secara kultur dan karena buku ini yang berhasil membimbing gue di masa pencarian jati diri gue (sebagai seorang ibu) dulu.

There is really no such thing as one best way to parent a baby, just as there are no perfect babies and, would you believe, no perfect parents – only people who have studied babies and people who have more experience than you. Too much advice from “experts” can actually interfere with the beginning parents’ intuition

– from the Baby Book by William and Martha Sears –

A (Not-so) Living Proof that I REALLY read this book

A (Not-so) Living Proof that I REALLY read this book

Sekali lagi ya gue garisbawahi, semua yang akan ada di serial ini adalah pengalaman gue; bisa jadi ada yang ga setuju, bisa jadi ada yang setuju juga. Tujuan gue cuma untuk share, siapa tahu bisa membantu new mom di luar sana untuk mendapatkan kepercayaan diri. Bagaimana menerapkannya? Ya cocok-cocokkan lah… yang penting: yang terbaik untuk anak… jangan acuhkan kata hati sebagai seorang ibu. Taelaaahh… sotooy!!!

Okay, here’s how it goes. Gue akan coba cerita pengalaman yang gue alami dengan Rafael selama 2 tahun pertamanya, kemudian gue akan coba membanding atau share sesuai apa yang tertulis di buku ini. Jadi secara tidak langsung kita tahu praktek dan teorinya seperti apa. Lalu terakhir kita coba tarik kesimpulan, tentang apa yang sebenernya terjadi. So… please ditunggu ya posting sebenarnya. (Kalau interlude nya aja butuh waktu 8 bulan, postingan sebenernya butuh berapa lama ya? Yikes!!)

crossing fingers for a more committed blogger….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s