Love… should it be Liberating or Prisoning??!

Jakarta, (originally wrote on) 26 Februari 2007

Let me tell you about my weekend, by far… the weirdest weekend I’ve ever had in years!!! You know all those scene in the movie of a bad breakups, when the character talk under the night sky with long and poetic dialog?? Hehehehe… believe it or not?? It happened to me. However, it wasn’t me who broke up… it was my bestfriend.

My bestfriend got involved with a jerk. A control freak that exagurates things. Hehehehe… mungkin gue juga rada keras menilai orang ini. Well, the truth is… I dont even know him well. Tapi hal itu ngga menghalangi dia nyalahin gue atas putusnya mereka berdua. Gue juga boleh dooong menilai dia kayak gitu?? hehehe… pembenaran pertama.

Singkat kata, menurut gue cowo ini rada keterlaluan dan sahabat gue ini ngga bahagia dengan hubungannya. Sebagai pemuja kebahagiaan, gue tentu aja ngga setuju dengan hubungan itu; tapi sebagai teman yang baik… gue cuma bisa dukung aja semua keputusan temen gue kan?? Well.. dengan sedikit masukan dan bahan pertimbangan siy. Hehehehehe…

Hmm… menurut pandangan mata gue, cowo ini emang sayang ama sahabat gue. Tapi dia kena temperamentolococcus syndrome akut, yaitu penyakit emosional dan temperamen tinggi stadium akhir. Gejala-gejalanya antara lain emosi dan temperamen yang labil dan sangat fluktuatif, kemampuan berlebihan dalam mencari masalah dan membesar-besarkannya serta kecenderungan untuk menyesal berlebihan yang menghapus semua tanda-tanda kekerasan dalam dirinya. Hihihi… oh ya, satu lagi… tingkat egoisitas yang super tinggi dan penilaian yang terlalu tinggi terhadap dirinya sendiri. Hahahaha… maaf yha kalo ada satu atau beberapa orang yang sampe tersinggung ama blog ini. Kebebasan berbicara Bung!!! Hehehehe, piss!!

Anyway… gue ngga dalam misi mencaci maki golongan orang di atas – believe me, there are a lot of those from where it comes from.

Yang mau gue pelajari adalah tipe hubungannya. Untuk para penderita temperamentalococcus syndrome, semua hal yang ia lakukan adalah yang paling benar. Sehingga ia berharap semua orang termasuk pasangannya melakukan seperti yang ia mau atau yang akan ia lakukan. Akhirnya terjadilah yang namanya mengatur dan mengekang pasangannya. Untuk penderita dengan stadium ringan, hubungan yang baik baginya adalah yang saling melarang, cinta diekspresikan dengan aturan, perhatian baru dianggap perhatian dengan batasan dan larangan pada dirinya.

Bila seorang penderita temperamentalococcus bertemu dengan penderita lainnya, tentu ngga akan jadi masalah. Masing-masing mengekspresikan cinta dan perhatiannya dengan saling memberikan aturan, batasan, larangan dan kekangan. Since they have the same opinion on relationship, things could work out. They could be happy… I call this kind of relationship: Alcatraz relationship.

Then there’s the opposite of temper syndrome. Orang-orang yang cuek; yang melepas pasangannya untuk bertanggung jawab, yang memberikan kebebasan untuk menjadi diri sendiri, yang terlihat ngga peduli dengan pasangannya dan ngga punya sisi romantis. Orang-orang yang ‘agak cuek’, sekali waktu tetep memberikan tuntutan ke pasangannya, tapi yang ‘parah cuek’ bahkan ngga sadar kalo pasangannya potong rambut.

Nah… sekali lagi, saat orang cuek bertemu sesamanya, mereka akan merasakan sesuatu kecocokan. Si A yang ngga pernah menuntut, ngga akan mendapatkan tuntutan dari si B yang juga typical orang cuek. Karena itu, they were happy. I named this relationship as the statue of Liberty.

Semua orang akan berbahagia kalau mereka bisa membangun hubungan dengan orang dari golongan mereka sendiri. Untuk kasus temen gue kemarin – dan banyak kasus-kasus sejenis – seorang Alcatraz ketemu Liberty. Mucho disaster. Masi lebih baik kalo kasusnya cewe Alcatraz ketemu laki-laki Liberty. Wanita yang sering dianggap lemah, hanya akan menjadi lalat kecil yang mengganggu dengan ke-Alcatraz-annya. Walaupun dengan skala yang lebih besar, cewe Alcatraz bisa sangat merepotkan dan bahkan sedikit psycho.

Tapi saat kasusnya laki-laki Alcatraz berhubungan dengan cewe liberty. Hasilnya adalah kasus dominasi dan penekanan terhadap pihak yang lebih lemah. Laki-laki yang jelas punya tenaga dan kemampuan kekerasan, bisa memberikan intimidasi ke pasangannya. Terlebih lagi karena cowo itu ngerasa ngga disayang dan dipedulikan oleh sang liberty.

Gue ngga akan bilang bahwa Liberti lebih baik dari Alcatraz, dengan kadar yang cukup dua-duanya bisa jadi suatu kekuatan. The thing is, there is no such thing as ‘just right’; all we have is ‘less’ or ‘too much’. So how do you maintain a relationship? Or how do you know that enough is enough?

Sekali lagi, sebagai penjunjung tinggi ‘kebahagiaan’… menurut gue, suatu hubungan ngga layak lagi dipertahankan saat salah satu atau dua pihak yang terlibat sudah ngga bahagia lagi, merasa tertekan dan lebih menyukai saat sendiri dibanding saat bersama pasangannya. Alcatraz masi bisa berhubungan dengan liberty, asal Alcatraz mau mengerem keinginannya untuk membatasi sang liberty sementara liberty memaksa dirinya untuk sedikit memberikan aturan pada Alcatraz.

Teori idealistisnya siy saling pengertian… tapi untuk bisa melakukannya, butuh usaha yang ekstra berat dan ngga gampang untuk dilakukan karena pada dasarnya bertentangan dengan prinsip dan nilai moral yang dianut. Saat hal itu udah menjadi terlalu berat untuk dilakukan, jangan pernah ngerasa takut untuk udahan. Ngga ada pihak yang salah… dan ngga ada yang bener. Yang ada cuma ketidakcocokan, perbedaan yang terlalu besar yang susah dan menyakitkan untuk disatukan.

Cinta memang lebih lengkap bila kita bisa memiliki cinta itu. To love and to be loved in return is ecstasy. But love derived from the feeling of happiness. So when love does not cause happiness, then it does not meant to be. Jangan dipaksa, karena cuma akan menambah penderitaan banyak pihak. Belajar untuk dengerin perasaan pasangan kita, dan bukan hanya punya kita aja.

Seperti kata Bapak Sophan Sophian dia acara empat mata edisi Valentine. It goes something like this:

Kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa senang dirimu, tapi seberapa bahagia orang lain karena dirimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s